MEREBEJA.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur saat ini sudah berkurang menjadi 12.673 jiwa, dari sebelumnya 12.761 jiwa.
“Pengungsi yang terpusat kami kurangi sehingga mereka mengungsi ke tempat yang lebih baik seperti rumah saudara atau kerabat,” kata Kepala BNPB Suharyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/11/2024).
Dirinya menjelaskan, hal tersebut dapat dilakukan oleh para korban seiring aktivitas vulkanis Gunung Lewotobi Laki-Laki yang mulai berangsur menurun.
Pihaknya mencatat dalam beberapa hari terakhir tidak ada lagi hembusan material vulkanis yang mencapai lebih 9-10 kilometer ke udara dari kawah utama gunung api itu sejak Sabtu, 9 November 2024. Melainkan hanya aktivitas kecil dengan lontaran abu kurang dari 1,5 kilometer ke udara.
Laporan yang diterima BNPB dari tim vulkanologi Badan Geologi Kementerian ESDM radius zona bahaya erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki juga sudah diturunkan dari sebelumnya 8-9 kilometer, menjadi 7-8 kilometer dari kawah utama atau sektoral arah barat daya-barat laut. Meski menurun tapi status aktivitas Gunung Lewotobi Laki-Laki masih pada level IV atau Awas.
Suharyanto pun memastikan bahwa meskipun mereka meninggalkan lokasi pengungsian tetapi setiap kepala keluarga dari korban erupsi tersebut akan tetap mendapatkan bantuan berupa dana tunggu hunian senilai Rp500 ribu untuk enam bulan.
Pemerintah Siapkan 2.700 Rumah untuk Pengungsi
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait mengungkapkan pemerintah menyiapkan sekitar 2.700 rumah bagi para pengungsi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pembangunan segera dilakukan bila sejumlah aspek sudah siap. Seperti izin kehutanan, infrastruktur, keamanan, serta aspek geologi.
“Kami akan siapkan sampai 2.700 rumah. Bahkan penyiapan dan pembuatan bahan baku pembangunan akan memaksimalkan sumber daya yang ada di sekitar masyarakat di Flores Timur. Dengan demikian, sekaligus akan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar atau penyintas,” kata Maruarar seusai rapat tingkat menteri (RTM), dalam siaran pers, Kamis (21/11/2024).
Sementara itu, Penjabat (Pj) Gubernur NTT Andriko Noto Susanto mengungkapkan dalam rapat tersebut juga dibahas mengenai konflik akibat sengketa tanah adat di Kecamatan Adonara Barat, Flores Timur.
“Ini merupakan upaya-upaya dan bentuk tanggung jawab serta resposn cepat pemerintah, baik pusat dan daerah untuk fokus dalam percepatan penanganan erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki dan juga konflik sosial yang terjadi di Flores Timur,” ujar Andriko.
“Kami terus berusaha semaksimal mungkin memberikan pelayanan dan penanganan yang terbaik bagi para korban erupsi Gunung Lewotobi dan juga konflik sosial di Adonara, sehingga semuanya berangsur pulih,” pungkas Andriko.












