MEREBEJA.COM- Masyarakat di Kecamatan Wulanggitan, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak mempunyai pilihan selain bertahan dibawa atap rumah yang hancur karena abu vulkanik Gunung Api Lewotobi meskipun, diguyur hujan selama 2 hari sejak Selasa (15/10/2024) pukul 19:00 wita sampai pada Rabu (16/10/2024) malam. Mereka sangat menderita pasalnya saat hujan, air bercampur belerang dan pasir yang masuk ke dalam rumah.
“Erupsi Gunung Lewotobi terjadi sejak Desember 2023 hingga saat ini yang membuat atap rumah penduduk hancur. Tetapi, sampai sekarang belum ada tindakan serius baik dari pemerintah daerah maupun pusat,” kata Vincent warga Klatanlo, Kec. Wulanggitan kepada Merebeja.com pada Rabu 16 Oktober malam.
Lanjut Vincent menerangkan, pasca erupsi Gunung Api, mereka hanya terima bantuan solidaritas dari pihak ketiga, bukan dari pemerintah daerah.
“Bantuan yang masuk, itu dari yayasan, kelompok, dan orang yang ada di perantauan. Pemda belum sampai hari ini,” pungkas Vincent.
Ia mengaku, pernah dapat informasi bahwa, Pemda Flotim membantu masyarakat di desa Dulipali Kecamatan Ile Bura yang juga menjadi korban abu vulkanik, sebesar 250 juta. Namun sayangnya, dana itu tidak sampai ke masyarakat.
Kondisi Masyarakat Wulanggitan Saat Ini
Demikian perilaku Pemda Flotim, kata Vincent, masyarakat sekarang yang mampu memperbaiki atap rumah, hanya orang yang memiliki penghasilan tetap. Selain itu, tergolong kelas bawah sehingga masih menggunakan terpal untuk berlindung. Bahakan, ada yang masih bertahan dengan atap bolong sampai sekarang.
“Akibat abu vulkanik produktivitas tanah menurun membuat penghasilan petani pun semakin memburuk. Jadi kami mau memperbaiki atap rumah atau membeli makanan untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kata Vincent, karena atap rumah telah hancur sehingga tidak ada lagi tempat untuk berlindung disaat hujan. Mereka hanya bisa pasrah menikmati air bercampur belerang dan pasir yang masuk ke dalam rumah.
“Memprihatinkan sekali kondisi kami saat ini. Sampai sekarang saya belum tidur, karena atap rumah bocor jadi masih duduk untuk menjaga,” kata dia.
Vincent menerangkan, selain atap rumah warga, atap sekolah juga hancur.
Ia berharap, Pemda Flotim bisa membuka mata untuk melihat kondisi masyarakat.
“Jangan hanya diam saja. Kami di Kecamatan Wulanggitan termasuk Kabupaten Flores Timur atau bukan,” tukasnya.***












