WARTA

Mengenal Tarian Vera: Warisan Adiluhung Etnis Rongga

16
×

Mengenal Tarian Vera: Warisan Adiluhung Etnis Rongga

Sebarkan artikel ini

MEREBEJA.COM – Tarian Vera adalah permata budaya etnis Rongga di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Kata Vera berasal dari bahasa Rongga yaitu Pera, yang berarti memperlihatkan atau mempertunjukkan. Makna ini merujuk pada fungsi tarian Vera sebagai sarana untuk menunjukkan, memperlihatkan, dan menyampaikan pesan-pesan penting yang diwariskan dari leluhur kepada generasi masa kini. Tarian ini bukan hanya sebuah pertunjukan seni, melainkan juga ekspresi kolektif dari identitas budaya dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Rongga. Istilah ini mencerminkan esensi tarian Vera sebagai ekspresi seni yang menampilkan gerakan, nyanyian, dan pesan-pesan penting dari leluhur kepada generasi penerus. Lebih dari sekadar seni pertunjukan, Vera adalah wujud identitas budaya yang mengandung nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap leluhur.

Tarian Vera biasanya digelar dalam acara adat seperti syukuran panen, pesta kenduri, atau ritual adat lainnya. Filosofi tarian ini mencakup kerja sama, persatuan, dan harmoni sosial, yang terwujud dalam gerakan ritmis para penari yang terdiri dari 10 laki-laki dan 10 perempuan. Penari perempuan, yang bergerak sambil berpegangan tangan, melambangkan kekeluargaan, doa, dan penghormatan kepada leluhur.

Setiap elemen tarian Vera memiliki makna yang dalam:

• Gerakan: Menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Rongga, penuh rasa hormat kepada leluhur dan tokoh yang dihormati.

• Syair atau Pata: Syair yang dilantunkan dalam tarian Vera, yang disebut Pata, menjadi medium untuk menyampaikan pesan moral dan kebijaksanaan leluhur atau pun tokoh-tokoh terkenal yang memiliki andil besar bagi masyarakat. Salah satu Pata terkenal karya Bapak Yosep Panggu yang secara eksplisit memuliakan Bapak Ki Hadjar Dewantara sebagai figur yang membawa cahaya dalam dunia pendidikan:

“Ema Dewantara ngata Ema pera ndara, ana Nusantara tei manga pasi jaja”. Syair atau Pata ini menjadi simbol semangat juang dan penghormatan kepada tokoh yang berjasa, sekaligus menyampaikan pesan kepada generasi muda untuk terus berkontribusi bagi bangsa.

• Busana: Penari perempuan mengenakan pakaian adat kuning kowak dengan kain Songke, sementara penari laki-laki mengenakan baju putih berlengan panjang, kain songket, dan Nggobe Rongga sebagai lambang kebanggaan budaya.

• Musik: Gong dan gendang tradisional memperkuat suasana spiritual, diawali dengan Dende Lamba atau pukulan gendang untuk membuka tarian.

Eksistensi tarian Vera menghadapi ancaman serius akibat rendahnya minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikannya. Dibutuhkan upaya konkret, seperti integrasi pendidikan budaya di sekolah, pelatihan khusus, dan promosi pada acara nasional maupun internasional. Melestarikan tarian Vera berarti menjaga warisan identitas etnis Rongga sekaligus memperkaya keberagaman budaya Indonesia. Warisan ini adalah milik kita bersama. sebuah pesan yang mengingatkan kita untuk terus menjaga dan menghormati akar budaya yang telah membentuk identitas bangsa mengingat tarian ini bukan sekadar tarian, tetapi pesan hidup yang menuntun masyarakat untuk menghargai tradisi, bersyukur, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur warisan leluhur