MEREBEJA.COM – Warga Kelurahan Mendut, Mungkid, Kabupaten Magelang menggelar Festival Budaya Hariti. Selain untuk melestarikan kebudayaan asli peninggalan leluhur, festival ini juga menjadi upaya pengembangan kebudayaan di kawasan Destinasi Super Prioritas (DSP) Borobudur.
Festival Budaya Hariti di Dusun Bojong berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu (5-7/12/2024). Di lokasi yang merupakan kawasan rumpun bambu di atas Sungai Progo, ditampilkan berbagai kesenian tradisional khas Mendut, yaitu kubro siswo, topeng ireng, dan Tari Hariti. Selain itu, disajikan pula makanan khas yaitu mendut, petruk serta hasil kerajinan kriya.
Ketua Pokdarwis Kelurahan Mendut, Wahyu Setiyono memaparkan, Festival Budaya Hariti adalah festival budaya dan kesenian daerah di Kelurahan Mendut. Tema ini mengambil salah satu cerita tentang Dewi Hariti yang ada dalam relief Candi Borobudur.
“Dewi Hariti dahulunya merupakan sosok butho yang menakutkan dan suka memakan anak-anak. Tetapi setelah reinkarnasi, Dewi Hariti menjadi dewi pelindung dan sayang pada anak-anak. Cerita ini ditampilkan dalam Tari Hariti, yang dipentaskan oleh anak-anak,” paparnya.
Adapun kubro siswo dan topeng ireng, kata Wahyu, adalah kesenian tradisional dari Mendut yang menjadi cikal bakal di Kabupaten Magelang bahkan di Jawa.
Untuk kuliner, mendut adalah nama makanan yang berasal dari kawasan tersebut. Karenanya diberi nama yang sama dengan nama kelurahan. Mendut merupakan sejenis kudapan yang biasa disajikan untuk snack dan sudah populer di berbagai daerah.
“Kalau petruk adalah makanan dari ubi yang diparut lalu diisi sayuran. Petruk ini hanya ada di Mendut, sehingga menjadi makanan tradisional khas di sini,” tambah Wahyu.
Festival ini pertama kali digelar, setelah Kampung Wisata Mendut mendapatkan pendampingan dari Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI. Wahyu berharap kegiatan ini bisa dilaksanakan rutin untuk menarik wisatawan.












