WARTA

Ambisi Amerika Serikat Ambil Alih Gaza

15
×

Ambisi Amerika Serikat Ambil Alih Gaza

Sebarkan artikel ini
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Liri Agami/Flash90
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Liri Agami/Flash90

MEREBEJA.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana mengambil alih Gaza. Dia pun menginginkan memindahkan seluruh warga Palestina di sana.

Pernyataan itu disampaikan Trump usai bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Washington, Selasa (5/2/2025).

“AS akan mengambil alih Jalur Gaza, dan kami juga akan melakukan pekerjaan di sana,” ujar Trump kepada wartawan.

“Kami akan memilikinya dan bertanggung jawab untuk membongkar semua bom berbahaya yang belum meledak dan senjata lainnya di lokasi itu,” lanjut Trump.

Dia menambahkan, di masa depan AS akan membangun perekonomian di wilayah milik Palestina yang hancur akibat serbuan Israel selama 15 bulan itu.

“Jika perlu, kami akan melakukannya, kami akan mengambil alih bagian itu, kami akan mengembangkannya, menciptakan ribuan dan ribuan lapangan kerja, dan itu akan menjadi sesuatu yang dapat dibanggakan oleh seluruh Timur Tengah,” tandas Trump.

Trump juga mengatakan bakal berkunjung ke Gaza. Namun, ia mengisyaratkan bahwa pembangunan kembali itu tak akan dinikmati warga Palestina.

“Gaza tidak boleh melalui proses pembangunan kembali dan pendudukan oleh orang-orang yang sama yang telah tinggal di sana dan meninggal di sana dan menjalani kehidupan yang menyedihkan di sana,” katanya.

Ini bukan pertama kalinya ia berbicara tentang wilayah Palestina, di mana ia mengaitkannya dengan bisnis real estat. Di Oktober lalu, ia mengatakan bahwa wilayah itu bisa “lebih baik daripada Monako”.

Sementara, Netanyahu yang berkomentar seusai koleganya itu menyebut, komentar AS akan mengambil alih Gaza sebagai ide out of the box dan ide segar.

“Ini menunjukkan kemauan untuk menghancurkan pemikiran konvensional,” kata Netanyahu.

Akhir-akhir ini, Trump bersikeras agar warga Gaza tinggal maupun mengungsi ke sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Mesir dan Yordania. Dengan kata lain, Trump ingin mengusir mereka dari tanahnya sendiri.

Mesir dan Yordania lantas menolak rencana tersebut. Otoritas Palestina juga menentang keras pemindahan warganya.

Respons Hamas

Pejabat senior Hamas merespon pernyataan  Trump itu.

“Kami menganggapnya sebagai resep untuk menciptakan kekacauan dan ketegangan di wilayah tersebut,” kata Sami Abu Zuhri dalam sebuah pernyataan dikutip AFP, Rabu (5/2/2024).

“Rakyat kami di Jalur Gaza tidak akan membiarkan rencana ini terlaksana,” sambungnya.

“Yang dibutuhkan adalah diakhirinya pendudukan dan agresi terhadap rakyat kami, bukan pengusiran mereka dari tanah mereka.” tandasnya.

Respons Warga Gaza

Warga Gaza geram dengan pernyataan Trump, Hatem Azzam, warga kota Rafah di Gaza selatan menganggap Trump menyamakan mereka dengan “sampah”.

“Trump menganggap Gaza adalah tumpukan sampah,” kata pria berusia 34 tahun itu.

“Ia berkhayal,” imbuhnya.

“Trump dan Netanyahu harus memahami realitas rakyat Palestina dan rakyat Gaza. Ini adalah orang-orang yang berakar kuat di tanah mereka. Kami tidak akan pergi.” ujarnya.

Sikap Indonesia

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana dalam keterangannya, Rabu (5/2/2025), menyebut bahwa proposal ini sebagai sesuatu yang absurd.

“Proposal ini sangat absurd karena mencabut hak rakyat Palestina untuk berada di Gaza, sangat berpihak pada Israel dan berpotensi melanggar hukum internasional,” sebut

Menurut Hikmahanto rencana Trump ini jelas mencabut hak rakyat Palestina karena ini tidak dikonsultasikan pada rakyat Palestina bahkan memaksa agar rakyat Palestina keluar dari tanah mereka.

“Paksaan tidak menggunakan senjata tapi berupa pemanis untuk membangun kembali Gaza,” tegas Hikmahanto.

Proposal ini berpihak kepada Israel karena diharapkan dari Gaza tidak ada serangan-serangan mendadak dari Gaza ke Israel.

Dia menyebut, bahkan bila dikosongkan dari rakyat Palestina bukannya tidak mungkin Israel akan membuka pemukiman baru bagi warganya di Gaza dan tanah Palestina pun akan semakin hilang.

“Proposal ini sangat memiliki potensi untuk bertentangan dengan hukum internasional. Pertama, terkait larangan pemerintah untuk memaksa masyarakat keluar dari tempat kehidupannya sehari-hari,” kata Hikmahanto.

“Kedua, bisa diklasifikasi sebagai penghilangan atas suatu etnis atau ethnic cleansing. Terakhir sama sekali tidak mengindahkan berbagai resolusi di PBB yang menegaskan Gaza adalah tanah rakyat Palestina,” tutur Rektor Univ Jenderal A. Yani itu.

“Oleh karenanya ide absurd Presiden Trump harus ditentang oleh Pemerintah Indonesia dan semua komponen masyarakat di Indonesia,” sambungnya.

“Bagi rakyat Palestina perjuangan mereka adalah untuk mendapatkan tanahnya kembali dan proposal Trump justru sebaliknya,” tukas Hikmahanto.