Bagaimana Kualitas Pendidikan Indonesia?
Sebuah pertanyaan yang mungkin agak susah gampang untuk dijawab. Mengutip quotes dari Nelson Mandela:
“Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia” – Nelson Mandela.
Banyak para ahli yang mendukung pendapat tersebut. Pendidikan mengarahkan untuk pembentukan generasi bagi sebuah bangsa. Tapi pernahkah kita merenungi maksud dari pernyataan tersebut? Pernahkah kita merefleksikan diri pendidikan yang bagaimana seharusnya? Mari kita refleksikan bersama!
Nyatanya, banyak sekali fenomena soala pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia seolah seperti puzzle yang berceceran, dan kita warganya bingung memilih potongan puzzle yang tepat, akhirnya coba saja sini menganggap “bagus” tanpa merefleksikan kembali, apakah sudah sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan? ataukah hanya sekadar ikut-ikutan?
Jika kita refleksikan, Indonesia sudah terlalu jauh meniru pendidikan di Barat. Pemahaman psikologi pendidikan dari Barat yang mengatakan bahwa anak merupakan kertas kosong, seolah memberikan pandangan bahwa orang tua dan lingkunganlah yang bebas mencoretnya. Anak dianggap tidak membawa modal minat dan bakat, Tuhan dianggap tidak memberikan modal hidup di muka bumi. Ditambah lagi, jika kita bicara tentang Tuhan, seolah bicara dua hal yang berbeda. Pendidikan ya pendidikan, Tuhan ya agama. Padahal pendidikan adalah cara kita mengajak anak mencintai Tuhannya.
Indonesia memiliki potensi yang luar biasa dalam hal apapun, termasuk nilai akar budaya bangsa. Sarjana-sarjana pendidikan membawa harapan untuk memperbaiki kualitas hidup pendidikan Indonesia, menguatkan akar budaya bangsa, menguatkan Ideologi Pancasila, khas negara Indonesia. Nampaknya, semakin tercabut dan terpapar pola pendidikan modern dari barat yang tidak bersumber dari filsafat hidup bangsa Indonesia. Kita terlalu terbawa arus keindahan dan kesuksesan orang lain tanpa meninjau kembali nilai diri.
Faktanya, masyarakat memandang Pendidikan adalah pembelajaran di sekolah, masyarakat sering menganggap hanya tugas sekolah dan guru. Rumah bukan menjadi lembaga pendidikan yang sejajar dengan sekolah. Hal ini menggiring opini bahwa guru sarjana pendidikanlah yang mampu mendidik anak karena sudah kuliah pendidikan.
Jika begitu, seharusnya pendidikan Indonesia sudah maju sejak dulu, mengingat setiap tahun selalu ada sarjana pendidikan yang baru setiap perguruan tinggi. Tetapi kenyataannya bagaimana?
Oleh karena itu, sarjana pendidikan terlalu luas untuk label sarjana yang notabenenya mengurusi soal pembelajaran, administrasi pembelajaran semata. Semoga ada solusi yang menengahi konsep pendidikan asli Indonesia dengan tantangan global yang pemerintah harapkan.












