WARTA

Imam Besar Kroasia: Dunia Harus Belajar Islam dari Indonesia

14
×

Imam Besar Kroasia: Dunia Harus Belajar Islam dari Indonesia

Sebarkan artikel ini

MEREBEJA.COM – Imam Besar Kroasia Syaikh Dr. Aziz E. Hasanovic menyampaikan kuliah umum bertajuk “Peran Islam dalam Membangun Perdamaian di Eropa” di Ruang Diorama, Lantai Dasar Gedung A. Auditorium Harun Nasution, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (19/11/2024).

Syaikh Dr. Aziz E. Hasanovic mengungkapkan kebahagiaan yang mendalam karena diterima dengan baik dan disambut hangat selama kunjungan di Indonesia. Terutama dapat berjumpa dengan mahasiswa, profesor dan civitas akademika UIN Jakarta.

Imam Besar mengawali kuliah umum dengan menekankan pentingnya menuntut ilmu bagi semua orang. Ia menyitir Surah Al-Alaq sebagai landasan teologis yang menyebutkan bahwa pursuit of knowledge adalah bagian dari doktrin agama.

“Pendidikan yang kalian lakukan di sini (UIN Jakarta) akan mengubah kalian dari tholabul ilmi menjadi ashabul ilmi,” katanya.

Dirinya mendorong dan menyemangati civitas akademika UIN Jakarta untuk tetap konsisten menempuh jalan-jalan pengetahuan.

“Jalan pengetahuan (akademis) itu adalah jalan keislaman, sementara jalan keislaman adalah jalan menuju ridhonya Allah,” ujarnya.

Imam Besar Kroasia itu mengingatkan pentingnya meneladani akhlak Nabi Muhammad. Sebagaimana firman Allah, Syaikh meneruskan, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”, dan juga ditegaskan oleh pernyataan Istri Nabi, Aisyah bahwa “Akhlaknya Nabi adalah Al-Qur’an.”

Selain itu, dia juga bercerita di banyak negara Eropa Islam belum diakui sebagai agama resmi. Menurutnya hal ini merupakan problem serius karena dapat membatasi ruang gerak umat Islam.

“Tidak diakuinya Islam sebagai agama resmi membuat banyak kaum muslimin tidak mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara,” ucapnya.

“Mereka tidak difasilitasi oleh negara untuk membangun tempat ibadah, sekolah dan bahkan perguruan tinggi.” lanjutnya.

Itulah mengapa, tutur dia, upaya untuk memperjuangan Islam sebagai agama resmi harus terus dilakukan. Adanya lembaga pendidikan Islam, menurutnya, akan memberikan akses transformasi pengetahuan tentang bagaimana Islam yang sebenarnya.

“Islam adalah agama yang mulia, sesuai dengan kemanusiaan, yang menjunjung tinggi perdamaian dunia,” jelasnya.

Ia menolak keras citra negatif yang mengatasnamakan Islam. Dirinya menilai adanya citra buruk terhadap Islam berasal dari pemahaman yang tidak tepat di kalangan internal umat Islam.

“Cara memahami Islam yang keliru akan menghasilkan penerapan yang keliru tentang Islam sehingga menimbulkan phobia (ketakutan) terhadap Islam itu sendiri,” ungkapnya.

Menurutnya solusi dari phobia terhadap Islam dapat diatasi dengan tiga hal. Melalui pendidikan dan pengajaran, tsaqofah Islamiyah, serta akhlak yang mulia. Akhlak yang baik, terang Syaikh, adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan keimanan dan Islam adalah agama yang menjunjung tinggi akhlak yang baik. Dalam teks-teks keislaman, ia melanjutkan, dapat ditemukan dengan mudah bahwa iman selalu berbanding lurus dengan akhlak.

“Orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya,” tuturnya.

Sebagai penutup, dia mengatakan Islam harus menjadi pelopor komunikasi lintas agama.

“Indonesia adalah negara yang telah berhasil melakukan percakapan antar iman dan cara beragama semacam inilah yang seharusnya diterapkan di seluruh dunia, Eropa khususnya Kroasia,” tukas Syaikh.