MEREBEJA.COM- Penjabat (PJ) Gubernur NTT, Andriko Noto Susanto, turun langsung melihat konflik perebutan tanah adat antara desa Ile Pati dan Bugalima yang terjadi pada Senin (21/10/2024) di Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur. Dalam peristiwa itu, sebanyak 51 rumah dibakar, 4 orang terluka akibat tertembak senapan angin, seorang bapak (70) sedang stroke ditemukan meninggal dunia karena terbakar.
Diketahui, penjabat gubernur di dampingi, Pj Bupati Flotim, Sulastri H.I. Rasyid, Kabiro Tatapen, Doris Rihi, Kadis Sosial Provinsi, Kanisius H. Mau, M. Si, dan Kesbangpol Regina Maria Manbait. Mereka berlayar dari pelabuan Ferry Bolok menuju Wai Jarang Lembata, menggunakan KM Ranaka pada Selasa (22/10/2024).
Selanjutnya, rombongan dari Kupang itu, tumpangi kapal cepat Ina Maria 3 menuju Adonara, pada Rabu (23/10/2024) pukul 07:05 wita.
Dinas Sosial Provinsi, Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, Daniel Tellu mengatakan, konflik perebutan tanah adat antara dua desa di pulau Adonara harus ditangani secara serius. Jika tidak, maka akan terjadi perang tanding. Oleh karena itu, penjabat gubernur berlayar menuju pulau itu, untuk melihat secara langsung tempat kejadian sekaligus memberikan bantuan kepada pengungsi. Hal itu dilakukan, sebagai bentuk kepedulian pemerintah provinsi terhadap masyarakat.
“Kami membawa bantuan berupa beras sebanyak 5 ton, kasur, pakaian dan makanan siap saji. Pokonya kami siapkan kebutuhan bagi para pengungsi di Adonara,” ungka Daniel.
Selain itu, Daniel menyampaikan, Puluhan personil tergabung dari, Samapta Polda NTT, Korps Brimob, juga dikerahkan untuk menjaga keamanan di sana.
Persoalan tanah terjadi sejak tahun 1970. Namun sayangnya, sampai saat ini belum ada solusi terbaik yang ditemukan. Kedua pihak itu dikabarkan sepakat untuk saling menahan emosi agar penyelesaiannya perkara dengan cara yang lebih baik bukan perang tanding. ***












