ÉKOSISTEM

Burung Kasuari, Sang Penjaga Hutan Papua

96
×

Burung Kasuari, Sang Penjaga Hutan Papua

Sebarkan artikel ini
Burung Kasuari. Foto: Istimewa

MEREBEJA.COM – Burung kasuari adalah burung yang masuk dalam deretan 10 burung terbesar di dunia. Tingginya bisa mencapai 1,8 meter, dengan berat mencapai 76 kg. Ini setara dua kali berat kambing.

Nama kasuari sendiri berasal dari bahasa Papua. Kasu, kasuari, atau kasavari berarti bertanduk. Sementara weri berarti kepala. Kasuari memang terlihat memiliki satu tanduk di atas kepala. Semakin besar tanduknya menandakan usianya yang semakin tua, sekaligus kedudukan yang tinggi dalam strata sosial kasuari.

Warna bulunya hitam, yang bisa menyamarkan badannya yang besar dalam keremangan hutan hujan tropis yang tidak tertembus sinar matahari. Tatapan matanya tajam sigap mengamati gerak-gerik mencurigakan dari balik rerimbunan daun.

Tanduk burung itu mengingatkan orang pada kebanyakan dinosaurus yang juga bertanduk. Itu sebabnya, kadang kasuari juga disebut burung dinosaurus. Begitupun dengan kakinya yang berjari tiga mirip kaki dinosaurus. Dalam teori evolusi, kerabat terdekat dinosaurus memang burung. Selain itu kasuari kadang juga disebut burung purba. Diketahui, sejak 60 juta tahun lalu diperkirakan morfologi kasuari tidak banyak berubah.

Habitat kasuari meliputi pulau Seram (Maluku), seluruh Papua termasuk pulau Yapen dan pulau Aru, dan Australia Timur Laut. Kasuari menyukai hutan hujan tropis yang lebat, hutan mangrove, namun kadang juga terlihat di dekat lahan pertanian penduduk. Yang terakhir ini karena habitat aslinya menyusut dan terfragmentasi, juga karena sumber makanan yang menipis.

Ada tiga spesies kasuari di dunia, yaitu kasuari utara (Casuarius unappendiculatus), kasuari selatan (Casuarius casuarius), dan kasuari kerdil (Casuarius bennetti). Kasuari selatan adalah yang terbesar, dengan ciri-ciri memiliki tanduk besar, gelambir ganda berwarna merah dengan leher berwarna biru. Kasuari utara berukuran lebih kecil dengan gelambir tunggal berwarna merah dan leher juga berwarna biru. Sedangkan kasuari kerdil berukuran paling kecil, tanduk yang juga kecil berwarna gelap.

Burung yang tidak bisa terbang ini memakan bulat-bulat aneka buah yang jatuh di lantai hutan. Biji yang ikut tertelan kemudian keluar bersama kotoran dan menjauh dari asal pohonnya. Ini memberi kesempatan kepada aneka pohon untuk menyebar dan memenuhi seluruh pulau Papua dan sekitarnya. Tanpa kehadiran kasuari, hutan hujan Papua barangkali tidak selebat seperti sekarang. Kasuari telah membantu regenerasi pohon-pohon hutan Papua itu tetap terjaga.

Banyak penelitian yang telah mengungkap peran kasuari dalam menyebarkan tanaman hutan. Misalnya yang dilakukan Margaretha Pangau Adam dan rekannya, yang menemukan kasuari juga makan buah tumbuhan palem. Ada sepuluh jenis biji palem pada 147 kotoran kasuari yang ditemukan dalam penelitiannya.

Sebuah penelitian pernah mengungkap dalam satu tumpukan kotoran kasuari terdapat hingga satu kilogram biji-bijian dari 78 jenis tumbuhan. Sebagian besar mampu berkecambah karena kotoran kasuari menjadi media sekaligus memberi nutrisi bagi tumbuhnya bakal pohon.
Meski kasuari dikenal sebagai satwa frugivora alias pemakan buah, namun satwa ini juga makan binatang kecil dan bagian tumbuhan lain. Terutama saat buah sulit didapat karena pergantian musim. Kasuari diketahui juga makan siput, serangga, jamur, juga bunga. La Hisa mengutip laporan dari warga lokal yang melihat kasuari makan rayap dan ikan kecil yang terperangkap dalam kolam yang mengering pada musim kemarau.

Sayangnya keberadaan kasuari semakin terganggu oleh aktivitas manusia. Penelitian yang dilakukan Jedediah F Brodie dan rekan di Nimbokrang dan pegunungan Arfak membuktikan populasi kasuari sangat berkurang pada wilayah yang sering dikunjungi manusia. Perburuan yang berlebihan, pembukaan lahan, dan masuknya mamalia yang diintroduksi mungkin berpengaruh terhadap populasi kasuari.