FIKSI

Motékar: Tanjung Batin

×

Motékar: Tanjung Batin

Sebarkan artikel ini

Saya lahir di rumah bilik bolong-bolong, tumbuh di lingkungan Islam kampung. Ibu saya seorang buruh bordir yang tidak pernah cerewet pada pemerintah. Orang-orang di kampung saya tidak pernah teriak-teriak tentang Pancasila atau merasa paling beragama. Kami merayakan negara hanya dengan kelereng pada hari kemerdekaannya. Pun tidak pernah ada yang lantang soal agama. Kami hanya tau, rumah ibadah selalu terisi saban waktu. Saling mengunjungi dan tukar rantang saat lebaran. Kami tidak pernah tau tentang pengeboman gereja atau penyegelan vihara. Bapak yang jelata bilang, suatu saat kehidupan kini akan masuk pada pelajaran sekolah, berita koran, dan tulisan para sastrawan namun tidak akan pernah ditemui lagi pada kenyataan. Ibu yang kurus juga bilang, sepulang kamu merantau air mata akan berlinang di samping kokoh tembok pabrik milik orang sipit dan tak akan kamu temui lagi rumah-rumah jangkrik. Sementara kami, telah tenang di tanah wakaf yang sepetak.

10 Maret 2024

Motékar adalah rubrik fiksi yang diasuh oleh Cevi Whiesa Manunggaling Hurip. Memuat fiksimini dan puisi. Instagram @cevi_whiesa

FIKSI

Oleh Qeis Surya Sangkala “Bunda, mereka berlarian hendak menjemput….

FIKSI

Oleh Cevi Whiesa Manunggaling Hurip “Sudah selesai, Aa. Terima…

FIKSI

Oleh Ria Arista Budhiarti Seorang suami tidak diizinkan masuk…

FIKSI

Oleh Qeis Surya Sangkala Aneh dari tadi suamiku terus-terusan…