REGIONAL

Mahasiswa Prosakti STKQ Alhikam Depok Angkatan 9 Lakukan Halal bi Halal dengan Kiai Hilmi dan Gus Yusron

×

Mahasiswa Prosakti STKQ Alhikam Depok Angkatan 9 Lakukan Halal bi Halal dengan Kiai Hilmi dan Gus Yusron

Sebarkan artikel ini

MEREBEJA.COM- Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran Alhikam Depok merupakan kampus berbasis pesantren yang didirikan oleh Kiai Hasyim Muzadi, Ketua PBNU periode 1999-2010. Kampus tersebut secara geografis berdekatan dengan kampus yang melahirkan banyak aktivis dan intelektual dari masa ke masa, Universitas Indonesia (UI).

Sudah menjadi program resmi STKQ Alhikam setiap tahun mengirim Mahasantrinya yang telah menyelesaikan tugas skripsi ke berbagai pelosok negeri untuk melakukan pengabdian masyarakat dengan berdakwah dan mengajar di daerah-daerah yang dianggap tertinggal jika dibandingkan dengan Jawa, seperti Papua, Kalimantan dan Sumatera. Tugas tersebut diberi nama PROSKATI (Program Masa Bakti), dan dijalani selama satu tahun penuh.

Di momen lebaran ini, para mahasantri yang tengah menjalani PROSAKTI melakukan Halal bi Halal atau silaturrahmi secara virtual dengan Pengasuh Pesantren Mahasiswa Alhikam Depok, Gus Yusron Shidqi, putra Kiai Hasyim Muzadi, serta Kiai Hilmi As-Shidqie Al-Aroky, selaku pengajar di Alhikam dan sekaligus penanggung jawab PROSAKTI.

Acara tersebut dibuka oleh M. Lutfi, Mahasiswa STKQ Alihkam yang tengah menjalankan pengabdian masyarakat di Meranti, Riau, selaku moderator. Lalu kegiatan berlanjut dengan maaf-maafan, sekaligus pesan-pesan nasihat dari Kiai Hilmi.

Mursyid Thariqah Qadiriyah Arokiyah tersebut menyampaikan bahwa manusia bisa kembali pada fitrah dengan mengingat dan menjalankan dua fungsi manusia, yaitu sebagai Hamba Allah (Abdullah) dan Wakil Allah di muka bumi (Khalifatullah). Tugas manusia sebagai Abdullah, menurutnya adalah dengan beribdah atau mengabdi kepada Allah secara langsung (vertikal), seperti melaksanakan salat dan puasa. Sedangkan tugas sebagai Khalifatullah, dijalankan dengan mengabdi kepada Allah melalui ibadah-ibadah sosial; pengabdian kepada masyarakat (horizontal). Hal itulah nantinya yang akan mewujudkan khairu ummah (sebaik-baik umat), dan melahirkan rahmatan lil alamin (kemanfaatan bagi seluruh alam).

“Kembali ke fitrah itu dengan menjadi manusia sebagai Abdullah dan khalifatullah atau dengan istilah K.H. Hasyim Muzadi pribadi salih dan muslih. Menjadi Abdullah dengan pengabdian kepada Allah secara langsung (hablun min Allah), menjadi kholifatullah dengan pengabdian melalui makhluk,” ungkap Kiai Hilmi, Jumat, 12 April 2024/3 syawal 1445.

Menurutnya, keberhasilan utama PROSAKTI itu minimal dengan daur dan haul, atau sederhananya dengan menyelesaikan tugas genap satu tahun di tempat pengabdian.

Selain itu, agar program ini lebih maksimal, Kiai Hilmi berpesan kepada para mahasiswa PROSAKTI supaya menciptakan dampak baik di daerah tugasnya masing-masing; Atsar kebaikan (bir/khair) istilah yang ia gunakan.

Pesan terakhir yang ia sampaikan setidaknya ada tiga poin penting untuk diwujudkan atau dijadikan target oleh para muridnya:

1. Mewujudkan kader dalam bidang

pendidikan Quran (intelektual).

 2. Mewujudkan kader pendakwah Islam rahmatan lil alamin (Dai’ moderat).

 3. Mewujudkan kader yang bisa memberdayaan masyarakat dalam hal kemandirian pesantren/halal dan wakaf (pengusaha muslim).

Setelah Kiai Hilmi menutup obrolannya dengan para mahasiswa PROSAKTI, giliran Gus Yusron menyampaikan pesan. Ia menyapa para anak didiknya dengan senyuman hangat, dan meminta mereka menceritakan keluh kesah atau hambatan di tempat tugasnya.

“Selesaikan tugas kalian di tempat pengabdian, lalu kalau sudah balik ke sini, kita bisa bercerita lebih panjang lebar secara setara (equal),” uangkpanya. Memang Gus Yusron ini adalah sosok kiai muda yang dikenal oleh para muridnya dengan sikapnya yang egaliter dan santai.

Ia juga menuturkan bahwa pengalaman mengabdi di masyarakat yang tengah dijalani para muridnya itu tentu memiliki dinamika dan tantangan tersendiri, yang mana hal itu menurutnya, biasa dalami oleh para kiai.

“Problematika anak prosakti sudah biasa dialami di dunia kiai. Pesantren lebih kompleks, lebih rumit dari yang Anda kira,” tuturnya.

“Ada hal-hal yang tidak bisa disampaikan, ada pengetahuan yang cukup untuk diri sendiri, karena takut disalahpahami, seperti Sahabat Abu Hurairah tidak menyampaikan beberapa hadis.  Ada cangkang ilmu yang tidak menetas dengan buku, tapi ada yang dengan keikhlasan, nyapu dll,” lanjut Kia Muda yang akrab dengan sapaan Gus Yus itu.

Menanggapi curhatan salah satu muridnya yang merasa kurang bermanfaat di tempat pengabdiannya, karena sdm yang dimiliki tidak dimaksimalkan oleh orang di sekitarnya, Gus Yus berpesan agar para mudrinya tidak memandang rahmat Allah secara eksklusif, terbatas, tapi dengan pandangan inklusif, luas.

“Jangan batasi rahmat Allah hanya pada ngajar, rahmat Allah akan menjangkau kita dengan banyak cara,” pesannya.

Ia juga mengutip sebuah hadis yang dikenal dengan Hadis Musalsal bil Awwaliyah:

الراحمون يرحمهم الرحمن  ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

“Para penyayang akan disayang oleh yang Maha Kasih. Kasihilah yang di bumi, maka yang di langit akan megasihi kalian.”

“Hidup kita sebagai manusia itu penuh keprihatinan, maka kita perlu punya rasa prihatin sama orang lain, sehingga Allah akan mengasihani kita,” tuturnya lagi.

“Nasihat itu ketulusan, jadi nasihat harus memihak pada santri. Kita bukan oposisi santri, jangan banyak mengkritik (menyalahkan) santri. Kritiknya harus atas dasar kasihan, bukan menjatuhkan,” sambungnya.

“Santri itu hanya merawat diri sendiri, ust mengatur/merawat santri, sedangkan kiai merawat ust. Itu berat loh. Menjadi Ketua PBNU lebih berat lagi, karena harus merawat/mengatur para kiai,” pesannya lagi.

“Cara mengasihani diri minimal solat, baca quran dll. Jangan merendahkan diri sendiri di hadapan orang lain, kamu itu bawa al-Quran. Itu termasuk mengasihani diri sendiri,” tandasnya.

“Jangan pacari tetangga, jangan pacari santri. Itu juga cara mengasihani diri sendiri. Maafkan murid kalian jika ada murid yang punya kesalahan, baik kesalahan  berupa hak materi atau perasaan, karena itu akan menghilangkan keberkahan hidup santri jika tidak diikhlaskan,” tutupnya.