EKOSISTEM

Ikan Wader yang Gemar Dikonsumsi dan Rentan Kepunahan

×

Ikan Wader yang Gemar Dikonsumsi dan Rentan Kepunahan

Sebarkan artikel ini
Ikan Wader. Foto: Agrozine

Ikan wader merupakan jenis ikan dari suku Cyprinidae, ikan ini masih satu satu keluarga dengan ikan mas hias, ikan mas, dan ikan karper atau ikan mas hias. Meski berada pada satu keluarga, Namun, ikan wader berlebih lebihkecil dibandingkan ikan mas. Ikan ini memiliki banyak nama, di antaranya ikan cere, beunteur,  paray.

Spesies ikan ini cukup banyak, kesemuanya  memiliki ciri khas tersendiri. Di perairan Indonesia, ada dua jenis ikan wader yang yang masih banyak ditemukan, yakni wader bintik dua dan wader pari. Wader pari yang menyandang nama ilmiah Rasbora lateristriata menjadi salah satu jenis ikan air tawar lokal Indonesia.

Salah satu tantangan mengonsumsi ikan ini karena merupakan perishable food atau bahan pangan yang mudah rusak. Karena itu, jika ingin membuatnya awet, maka perlu Teknik penyimpanan yang bagus, misalnya dalam suhu dingin.

Almira Islamei Pratiw dkk (2017) mengungkapkan wader banyak dikonsumsi oleh masyarakat sebagai sumber protein hewani. Ia memiliki rasa yang gurih dan dapat dimasak dengan berbagai cara pengolahan. Jadinya, ikan bisa dinikmati dengan berbagai olahan makanan.

Sebagai sumber makanan yang digemari, maka permintaan pasar ikan ini terus meningkat, keberadaannya di alam saat ini semakin hari semakin sulit untuk ditemukan (Budiharjo 2002).

Ikan ini menurut Budiharjo dapat ditemukan di perairan Indonesia, di antaranya  Jawa, Bali, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara. Namun, ada hal yang miris perihal ikan ini, yang sedang berada dalam intaian kepunahan.

Dilansir dari lama ugm.ac.id, Prof. Dr. Ir. Djumanto mengatakan, keberadaan ikan ini di alam berada dalam intaian kepunahan. Bahkan, statusnya dapat meningkat menjadi kritis jika kualitas habitatnya mengalami penurunan yang sangat drastis, yang menyebabkan ikan ini tidak cocok untuk berkembang biak.

Guru Besar Ilmu Manajemen Sumberdaya Perikanan Fakultas Pertania Universita Gadjah Mada itu mengungkapkan, ada sejumlah faktor utama yang mengancam keberadaan ikan wader, bahkan seluruh ikan air tawar asli perairan darat. Salah satu ancamannya adalah cara penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan,  misalnya memakai alat setrum untuk menangkapnya, ini jelas cara yang  yang merusak.

Ancaman lainnya dalah perliaku pemancing ikan maupun penggemar ikan. Mereka kurang bertanggung jawab, misalnya dengan cara melepaskan spesies ikan tertentu yang dapat berakibat pada penurunan populasi ikan mangsa. Lalu, introduksi spesies asing yang invasive juga dapat menjadi kompetitor atau predator pada ikan asli.

Sementara berdasarkan status keberadaannya, ikan berstatus risiko rendah sebanyak 83 persen, ikan berstatus belum dievaluasi sebesar 13 persen, sedangkan yang berstatus informasi data kurang dan rentan masing-masing 2 persen.

“Spesies ikan yang berstatus rentan yaitu ikan wader, bisa menjadi kritis ketika kualitas habitat ikan wader mengalami penurunan yang sangat drastis, sehingga tidak cocok untuk berkembang biak. Demikian halnya, ikan yang berstatus risiko rendah bisa menjadi rentan jika tingkat penangkapan dan gangguan antropogenik lainnya sangat tinggi,”urainya.

Menurutnya perlindungan dan pelestarian terhadap ikan asli dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu penebaran atau restocking, pemanfaatan ikan terkendali, domestikasi ikan asli, pembuatan reservat,  pengendalian ikan invasif,  dan modifikasi habitat pemijahan.