EKOSISTEM

Elang Bondol, Si Maskot Jakarta yang Berangsur Hilang

×

Elang Bondol, Si Maskot Jakarta yang Berangsur Hilang

Sebarkan artikel ini
Elang Bondol. Foto: Bali Safari and Marine Park

Populasi Elang Bondol tersebar di India, China Selatan, Australia hingga Asia Tenggara termasuk Indonesia. Di Kalimantan, terutama wilayah Kapuas Hulu Kalimantan Barat keberadaan burung ini termasuk melimpah.

Tetapi tidak di Ibu Kota Negara, burung Elang Bondol di wilayah DKI Jakarta dari waktu ke waktu semakin sulit dijumpai. Salah satu penyebabnya yaitu sarangnya sebagai tempat beristirahat dan berkembang biak semakin menyusut karena menjadi pemukiman yang padat penduduk.

Hal ini diungkapkan Achmad Ridha Junaid, Biodiversity Officer Burung Indonesia. Dia mengatakan, selain dampak dari ruang hidupnya kian menyusut, katanya, menurunnya populasi burung elang bondol di Ibukota Indonesia itu juga dinilai karena perburuan liar masih marak.

Bahkan, di marketplace masih banyak ditemukan anakan burung elang yang diperjualbelikan secara liar, hal ini tentu memicu terhadap perkembangan satwa ini.

“Keberadaan elang bondol ini kan salah satunya bergantung pada pohon bakau. Jika pohon bakaunya berkurang karena tergantikan oleh pembangunan-pembangunan. Maka, dimana mereka akan tinggal? Bisa jadi mereka bergeser ke pulau-pulau yang minim dengan aktifitas manusia,” kata Ridha, pertengahan November 2023 lalu.

Kondisi tersebut, lanjut Ridha, berbeda dengan 10-15 tahun lalu. Ketika itu, dia melakukan pengamatan di pesisir Jakarta, ia masih kerapkali menjumpai burung dari subfilum vertebarata dari famili Accipitridae ini. Namun, seiring saat ini elang bondol ini semakin sulit ditemukan.

Ridha menyayangkan berkurangnya burung elang bondol di DKI Jakarta, jika dilihat dari segi peranannya, di alam, burung elang bondol mempunyai tugas yang signifikan sebagai penyeimbang ekosistem yaitu sebagai puncak predator.

Untuk diketahui, pada tahun 1989 Elang Bondol resmi dijadikan sebagai maskot Ibukota Jakarta. Hal ini bertujuan karena burung ini mulai terancam keberadaannya, sehingga diharapkan masyarakat mengenal dan melestarikan satwa tersebut.

Burung ini pun menjadi satwa endemik yang dilindungi UU No 5 Tahun 1990 dan diatur dalam PP No 106 Tahun 2018.